Purnamatravel’s Blog

Customer is my family

WISATA RELIGIUS 4H / 3M

Hari 01: MARTAPURA CITY TOUR ( L, D )

Peserta dijemput di bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin, selanjutnya diantar menuju Pendulangan Intan dan Penggosokan Intan dilanjutkan ke Pusat penjualan Intan dan Permata di Pasar MARTAPURA. Makan malam. Setelah selesai makan malam check in hotel. (Istirahat – acara bebas).

 

Hari 02 : MARTAPURA – RANTAU – KANDANGAN – BARABAI ( B,L, D )

Sarapan pagi di hotel. Check out hotel. Dilanjutkan ke Martapura ziarah makam K.H. Abdul Ghani Zailani (Sekumpul) dan Syekh Arsyad Al Banjari (Kelampaian), Rantau makam Datu Sanggul dan Datu Nuraya, Kandangan makam Datu Taniran, Barabai Masjid & ziarah makam di Tabu Darat. Check in hotel di Amuntai. (Istirahat – acara bebas).

 

Hari 03 : AMUNTAI – TANJUNG – BANJARMASIN ( B, L, D )

Setelah sarapan pagi check out hotel. Dilanjutkan mengunjungi Situs Candi Agung. Kemudian menuju Tanjung ziarah makam Darun Nafis di Murung Pudak. Menuju kota Banjarmasin mengunjungi Pusat Pembuatan dan Penjualan Kain Sasirangan. Makan malam. Check in hotel. (Istirahat – Acara bebas).

 

Hari 04 : BANJARMASIN CITY TOUR ( B, L )

Shalat subuh di Masjid Sultan Suriansyah. Selanjutnya dengan menggunakan klotok (perahu air) peserta berkeliling menyusuri sungai Barito menuju PASAR TERAPUNG yang dilanjutkan menuju KAMPUNG WISATA dan PULAU KEMBANG yaitu pulau yang dihuni ratusan kera jinak berekor panjang. Kembali ke hotel untuk mandi dan check out hotel. Kemudian rombongan diajak belanja ke Pusat oleh-oleh khas Kalimantan.  Menuju Bandara Syamsuddin Noor untuk kembali ke kota asal.

HARGA PAKET ZIARAH

4H 3M

HOTEL

2 – 4 Pax

5 – 10 Pax

11 – 15 Pax

16 – 20 Pax

21 – 27 Pax

EFA Guest House**

3.731.250

2.926.250

2.219.000

1.833.750

1.747.500

Grand Mentari***

3.760.000

2.960.750

2.253.500

1.862.500

1.776.250

Amaris***

3.794.500

2.995.250

2.288.000

1.891.250

1.820.750

HBI***

3.840.500

3.058.500

2.339.750

1.943.000

1.862.500

Swiss Belt***

3.949.750

3.185.000

2.460.500

2.052.250

1.977.500

Arum****

3.886.500

3.110.250

2.391.500

1.989.000

2.008.500

Rattan In****

4.013.000

3.259.750

2.529.500

2.115.500

2.020.750

Harga termasuk :

  • Akomodasi hotel sesuai pilihan paket wisata.
  • Berlaku unruk domestik, Kims / Kitas.
  • Program tour sesuai jadual perjalanan terlampir.
  • Makan pagi, makan siang dan makan malam sesuai program ( B, L, D )
  • Guide lokal berbahasa Inggris dan Indonesia.
  • Trasportasi AC Isuzu ELF, Pregio. Bus Pariwisata.
  • Tiket masuk Objek Wisata.
  • Mineral water.

Harga tidak termasuk :

  • Domestik Airport tax.
  • Minibar.
  • Biaya Laundry, telephone dan biaya pengeluaran pribadi lainnya.
  • Asuransi perjalanan.
  • Porter.
  • Biaya lain-lain yang timbul akibat adanya perubahan program perjalanan oleh peserta.

RESERVATION :

Sigit Purnomo

HP. 0811 51 3004

YM : sigit_pcibjm

Purnama Tour & Travel

PT. PURNAMA CAHAYA INSANI

Jl.A. Yani km 30 Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Telp     : (0511) 4774370, 7752999

Fax     : (0511) 4774370

Email   : purnama_travel@hotmail.com; sigit_pcibjm@yahoo.com

Iklan

Mei 3, 2011 Posted by | Paket Wisata Banjarmasin, Wisata Religius | , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

WISATA RELIGIUS 3H / 2M

HARI 01 : MARTAPURA CITY TOUR ( L, D )

Penjemputan di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Dijemput dan diantar menuju Desa Cempaka untuk melihat aktivitas PENDULANGAN INTAN dilanjutkan menuju Pusat Penjualan INTAN dan PERMATA di kota MARTAPURA. Check in hotel. (Istirahat – Acara bebas).

HARI 02 : WISATA ZIARAH ( B, L, D )

Makan pagi di hotel. Pagi-pagi berangkat ziarah ke makam KH. Zaini Abdul Ghani (Guru Ijai) di SEKUMPUL, Makam Syech Muhammad Arsyad Al Banjari di PELAMPAIAN dan diteruskan menuju makam Datu Sanggul di daerah RANTAU. Kembali ke hotel. (Istirahat – Acara bebas).

HARI 03 : BANJARMASIN CITY TOUR ( B, L )

Setelah shalat subuh dengan menggunakan klotok (perahu air) peserta berkeliling menyusuri sungai Barito menuju PASAR TERAPUNG. Dari pasar terapung sebelum ke hotel mampir dulu ke MAKAM & MASJID PANGERAN SURIANSYAH yang merupakan masjid tua dibangun pada masa Kerajaan Banjar Islam. Kembali ke hotel untuk mandi dan check out hotel selanjutnya menuju Bandara Syamsuddin Noor untuk kembali ke kota asal.

HARGA PAKET PANORAMA WISATA BANJARMASIN

HOTEL 2 – 4 Pax 5 – 10 Pax 11 – 15 Pax 16 – 20 Pax 21 – 27 Pax
EFA Guest House** 2.400.000 1.560.000 1.145.000 955.000 870.000
Grand Mentari*** 2.445.000 1.620.000 1.200.000 1.000.000 920.000
Amaris*** 2.495.000 1.695.000 1.265.000 1.065.000 980.000
HBI*** 2.575.000 1.790.000 1.355.000 1.150.000 1.070.000
Swiss Belt*** 2.745.000 2.015.000 1.560.000 1.335.000 1.270.000
Arum**** 2.645.000 1.885.000 1.445.000 1.225.000 1.155.000
Rattan In**** 2.845.000 2.150.000 1.680.000 1.445.000 1.380.000

Harga termasuk :

  • Akomodasi hotel sesuai pilihan paket wisata.
  • Berlaku unruk domestik, Kims / Kitas.
  • Program tour sesuai jadual perjalanan terlampir.
  • Makan pagi, makan siang dan makan malam sesuai program ( B, L, D )
  • Guide lokal berbahasa Inggris dan Indonesia.
  • Trasportasi AC Isuzu ELF, Pregio. Bus Pariwisata.
  • Tiket masuk Objek Wisata.
  • Mineral water.

Harga tidak termasuk :

  • Domestik Airport tax.
  • Minibar.
  • Biaya Laundry, telephone dan biaya pengeluaran pribadi lainnya.
  • Asuransi perjalanan.
  • Porter.
  • Biaya lain-lain yang timbul akibat adanya perubahan program perjalanan oleh peserta.

 

RESERVATION :

Sigit Purnomo

HP. 0811 51 3004

YM : sigit_pcibjm

Purnama Tour & Travel

PT. PURNAMA CAHAYA INSANI

Jl.A. Yani km 30 Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Telp     : (0511) 4774370, 7752999

Fax     : (0511) 4774370

Email   : purnama_travel@hotmail.com; sigit_pcibjm@yahoo.com

Maret 25, 2011 Posted by | Paket Wisata Banjarmasin, Wisata Religius | , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

DATU SANGGUL

Semasa hidupnya, Datu Sanggul ke Tapin ( desa Muning Tatakan ) dalam rangka menuntut ilmu agama kepada Datu Suban, hal ini bukan berarti beliau belum memiliki ilmu agama, melainkan beliau sudah memiliki ilmu agama sudah cukup dan juga seorang Ulama. Dalam suatu mimpi ( ketika masih berada di Palembang ) didalam mimpinya bertemu dengan orang tua yang menasehati kalau anaknda Abdussamad mau mendapatkan ilmu sejati maka tuntutlah sekarang, dan orang itu berada didaerah Kalimantan Banjar tepatnya di kampung Muning pantai Munggu Tayuh Tiwadak Gumpa, di sana ada seorang tua (datu) yang bernama Suban (Datu Suban), atas petunjuk didalam mimpi itu Abdussamad berangkat menuju Kalimantan, yang sebelumnya mendapatkan izin dari orang tua kandung hingga sampailah beliau mendapatkan daerah yang dicari yaitu kampung Muning (Tatakan).

Setibanya di kampung Muning, beliau menemui Datu Suban dan menceritakan perihal akan mimpinya tersebut, dengan lapang dada seakan mengerti akan simbol rabbaniyahtul Ilm pada hallikwal waktu itu Datu Suban pun menerima dan mengerti akan maksud kedatangannya serta disambut serta sangat diharapkan oleh Datu Suban ibarat pepatah buku bertemu dengan ruas kemudian pasak bertemu dengan tiang. Atas pengamatan dan penilaian Datu Suban terhadap Datu Sanggul bahwasanya Datu Sanggul mempunyai sikap maupun watak yang berbeda dari murid-muridnya yang lain, sehingga Datuk Sanggul diberikan amanah untuk menjaga kitab oleh Datu Suban mengenai ilmu Ma’rifattullah.

Menurut catatan sejarah, aktifitas beliau sehari-hari yakni berburu rusa, katanya cara beliau berburu dengan cara menunggu ditempat yang sering dilalui oleh binatang buruan dan hasil dari berburunya didermakan ketetangga dan jiran sekitar rumah beliau.
Menurut mereka yang sefaham aliran dengan beliau ialah dengan ketaatan, ketawadhuan serta tingkat peribadatannya sampai mencapai martabat Abudah dan Badal. Metode pelaksanaan syariat keagamaannya di nilai sangat kuat seperti sholat Tahajjud terutama dibulan suci Ramadhan beliau selalu mengikat perut dan menguatkan ibadahnya untuk menunggu malam Lailatul Qadar, menurut kepercayaan orang Banjar pada malam ganjil dimulai pada 20 akhir Ramadhan beliau selalu menyanggul Lailatul Qadar, sehingga atas dasar tersebut masyarakat setempat digelari dengan sebutan Datu Sanggul.

Sementara keunikannya dari pola interaksi symbolic Datuk Sanggul, melalui Kitab Barencongnya pada manaqibnya penuh syair serta puisi dan pantun. Diceritakan oleh juri kunci pemakaman Julak Antung, dimana masyarakat sekitar memanggilnya, menurutnya melalui yang tercatat dalam sejarah yakni manaqib Datu Sanggul dengan riwayat Kitab Barencong yang diberikan Datu Suban kepada Datu Sanggul secara silsilah merupakan berasal dari Datu Nuraya yang maqamnya berada dekat pertahanan Datu Dulung ketika melawan Belanda dan benteng tersebut adalah benteng Munggu Tayuh digelari dengan Datu Nuraya karena datu tersebut datang ke kampung Muning bertepatan dengan hari raya selepas Datu Suban melaksanakan sholat Ied. Setelah berkenalan dan memperlihatkan sebuah kitab kepada Datu Suban tidak lama kemudian orang tersebut ambruk dan wafat pada hari raya itu juga. Mengenai riwayat Datu Nuraya tidak ada kejelasan dari mana beliau berasal dan apa tujuan beliau berada dikampung Muning Tatakan, namun menurut kabar yang berkembang di masyarakat ada yang mengatakan bahwa Datu Nuraya berasal dari Hadramaut tetapi ada pula yang mengatakan bahwa Datu Nuraya berasal dari pulau jawa, dengan gelar garandali, diceritakan garandali sebuah gelar yang luar biasa, namun ketawadhuan yang dimiliki Datu Nuraya membuat hidupnya lebih memilih merakyat, keutamaan garandali tak lain adalah seorang ulama yang selalu merakyat, halikwal dan keinginannya sudah bulat di tujukan hanya satu yakni kepada Allah SWT, sehingga setiap ibadah maupun di dalam memanfaatkan ilmunya,selalu merasa tak berdaya melainkan hanya dengan pertolongan Allah SWT, setiap kebaikan yang di anggapnya selalu hanya hadiah dari Allah.SWT, dengan seperti itu,menjadikan hati bahkan seluruh batang tubuhnya hanya sebagai persinggahan Allah.SWT saja dan ini tingkat ikhlash yang tertinggi ungkapnya.

Datu Nuraya, seorang figur garandali yang menempuh jalan gurur, jalan gurur yang selalu di kilati akan hal dan menurut kabar jalan ini tak mudah, dan konon beliau ini, dengan kain kebesarannya atau tapih dapat mengatur alam, yang tentunya atas izin Allah.SWT, seperti menurunkan hujan, mengatur petir, dan awan serta angin yang bertiup, sehingga setiap beliau berjalan di terik matahari awan selalu menaunginya, Sementara itu juga ada kabar yang menyebutkan bahwasanya beliau bernama Syekh Gede Jangkung, hal ini dilihat dari ukuran makam beliau yang panjangnya 63 meter. Kitab yang diberikan Datu Nuraya kepada Datu Suban berisi tuntunan hidup pada kehidupan lahir dan bathin untuk kehidupan didunia maupun dikehidupan akhirat serta rahasia alam dan rahasia rubbubiyah, serta menyangkut Rabbaniyatul Ilm dan Rabbaniyatul hukum.

Kembali ke Datu Sanggul bertemu dan menjalin persaudaraan dengan Datu Kelampaian, di ceritakan oleh masyarakat setempat, akan hallikhwal Datu Kelampaian Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari mengaji ke mekkah, beliau sudah melakukan ikatan lahir bathin dengan Datu Sanggul, yakni (beangkatan dangsanak) jika orang banjar mengartikan.

Ikatan saudara ini lebih di perluas dengan saling memberikan pengetahuan satu sama lainnya, dimana keingintahuan Datu Kelampaian pada isi kitab Datu Sanggul terpenuhi, sementara pesan Datu sanggul kepada datu kelampaian yakni , kalau adinda bulik ke banua yang sarincung kitab ini kaina ambil di Kampung Muning Tatakan dengan syarat harus membawa kain putih, sebab bila kitab ini bersatu lagi salah satu diantara kita akan kembali kepada Allah.SWT.

Ketika Datu Kelampaian pulang ke kampung halaman di Martapura setelah 30 tahun mengaji di Mekkah dan sempat mengajar di Masjidil Haram Mekkah pada bulan Ramadhan 1186 H atau bulan Desember 1772 M, usai Datu Kelampaian berkumpul dengan keluarga maka beliau teringat dengan Datu Sanggul sebagai saudara yang ada di kampung muning Tatakan dengan berencana akan melakukan silahturhami.
Sesampainya di kampung Muning beliau sampai pada gubuk yang sederhana apakah benar suadara Datu Sanggul telah pulang kerahmatullah, dan konon meninggalnya Datu Sanggul ditandai dengan hujan lebat selama tiga hari tiga malam berturut-turut,yang menandakan bahwa langit dan bumi merasa bersedih atas kepergiannya.

Maret 24, 2011 Posted by | Wisata Religius | , , , , , , , | Tinggalkan komentar

KH. MUHAMMAD ZAINI ABDUL GHANI (GURU IJAI)

Profil Abah Guru

Syaikhuna al-Alim al-Allamah Muhammad Zaini bin al-Arif billah Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani yang selagi kecil dipanggil dengan nama Qusyairi adalah anak dari perkawinan Abdul Ghani bin H Abdul Manaf dengan Hj Masliah binti H Mulya. Muhammad Zaini Ghani merupakan anak pertama, sedangkan adiknya bernama H Rahmah.

Beliau dilahirkan di Tunggul Irang, Dalam Pagar, Martapura pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H bertepatan dengan tanggal 11 Februari 1942 M.

Diceriterakan oleh Abu Daudi, Asy Syekh Muhammad Ghani sejak kecil selalu berada di samping ayah dan neneknya yang bernama Salbiyah. Kedua orang ini yang memelihara Qusyairi kecil. Sejak kecil keduanya menanamkan kedisiplinan dalam pendidikan. Keduanya juga menanamkan pendidikan tauhid dan akhlak serta belajar membaca Alquran. Karena itulah, Abu Daudi meyakini, guru pertama dari Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani adalah ayah dan neneknya sendiri.

Semenjak kecil beliau sudah digembleng orang tua untuk mengabdi kepada ilmu pengetahuan dan ditanamkan perasaan cinta kasih dan hormat kepada para ulama. Guru Sekumpul sewaktu kecil sering menunggu al-Alim al-Fadhil Syaikh Zainal Ilmi yang ingin ke Banjarmasin hanya semata-mata untuk bersalaman dan mencium tangannya.

Pada tahun 1949 saat berusia 7 tahun, beliau mengikuti pendidikan “formal” masuk ke Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura. Guru-guru beliau pada masa itu antara lain, Guru Abdul Muiz, Guru Sulaiman, Guru Muhammad Zein, Guru H. Abdul Hamid Husain, Guru H. Rafi’i, Guru Syahran, Guru Husin Dahlan, Guru H. Salman Yusuf. Kemudian tahun 1955 pada usia 13 tahun, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Darussalam, Martapura. Pada masa ini beliau sudah belajar dengan Guru-guru besar yang spesialist dalam bidang keilmuan seperti al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al-Alim al-Fadhil Husain Qadri, al-Alim al-Fadhil Salim Ma’ruf, al-Alim al-Allamah Syaikh Seman Mulya, al-Alim Syaikh Salman Jalil, al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al-Alim al-Fadhil al-Hafizh Syaikh Nashrun Thahir, dan KH. Aini Kandangan. Tiga yang terakhir merupakan guru beliau yang secara khusus untuk pendalaman Ilmu Tajwid.

Kalau kita cermati deretan guru-guru beliau pada saat itu adalah tokoh-tokoh besar yang sudah tidak diragukan lagi tingkat keilmuannya. Walaupun saya tidak begitu mengenal secara mendalam tetapi kita mengenal Ulama yang tawadhu KH. Husin Qadri lewat buku-buku beliau seperti Senjata Mukmin yang banyak dicetak di Kal-Sel. Sedangkan al-Alim al-Allamah Seman Mulya, dan al-Alim Syaikh Salman Jalil, ingin rasanya berguru dan bertemu muka ketika masih hidup. Syaikh Seman Mulya adalah paman beliau yang secara intensif mendidik beliau baik ketika berada di sekolah maupun di luar sekolah. Dan ketika mendidik Guru Sekumpul, Guru Seman hampir tidak pernah mengajarkan langsung bidang-bidang keilmuan itu kepada beliau kecuali di sekolahan. Tapi Guru Seman langsung mengajak dan mengantarkan beliau mendatangi tokoh-tokoh yang terkenal dengan sepesialisasinya masing-masing baik di daerah Kal-Sel (Kalimantan) maupun di Jawa untuk belajar. Seperti misalnya ketika ingin mendalami Hadits dan Tafsir, guru Seman mengajak (mengantarkan) beliau kepada al-Alim al-Allamah Syaikh Anang Sya’rani yang terkenal sebagai muhaddits dan ahli tafsir. Menurut Guru Sekumpul sendiri, di kemudian hari ternyata Guru Tuha Seman Mulya adalah pakar di semua bidang keilmuan Islam itu. Tapi karena kerendahan hati dan tawadhu tidak menampakkannya ke depan khalayak.

Sedangkan al-Alim al-Allamah Salman Jalil adalah pakar ilmu falak dan ilmu faraidh. (Pada masa itu, hanya ada dua orang pakar ilmu falak yang diakui ketinggian dan kedalamannya yaitu beliau dan al-marhum KH. Hanafiah Gobet). Selain itu, Salman Jalil juga adalah Qhadi Qudhat Kalimantan dan salah seorang tokoh pendiri IAIN Antasari Banjarmasin. Beliau ini pada masa tuanya kembali berguru kepada Guru Sekumpul sendiri. Peristiwa ini yang beliau contohkan kepada kami agar jangan sombong, dan lihatlah betapa seorang guru yang alim besar tidak pernah sombong di hadapan kebesaran ilmu pengetahuan, meski yang sekarang sedang menyampaikannya adalah muridnya sendiri.

Selain itu, di antara guru-guru beliau lagi selanjutnya adalah Syaikh Syarwani Abdan (Bangil) dan al-Alim al-Allamah al-Syaikh al-Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Kedua tokoh ini biasa disebut Guru Khusus beliau, atau meminjam perkataan beliau sendiri adalah Guru Suluk (Tarbiyah al-Shufiyah). Dari beberapa guru beliau lagi adalah Kyai Falak (Bogor), Syaikh Yasin bin Isa Padang (Makkah), Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail al-Yamani, dan Syaikh Abdul Kadir al-Bar. Sedangkan guru pertama secara ruhani adalah al-Alim al-Allamah Ali Junaidi (Berau) bin al-Alim al-Fadhil Qadhi Muhammad Amin bin al-Alim al-Allamah Mufti Jamaludin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan al -Alim al-Allamah Muhammad Syarwani Abdan Bangil. (Selain ini, masih banyak tokoh lagi di mana sebagiannya sempat saya catat dan sebagian lagi tidak sempat karena waktu itu beliau menyebutkannya dengan sangat cepat. Sempat saya hitung dalam jumblah kira-kira, guru beliau ada sekitar 179 orang sepesialis bidang keilmuan Islam terdiri dari wilayah Kalimantan sendiri, dari Jawa-Madura, dan dari Makkah).

Gemblengan ayah dan bimbingan intensif pamanda beliau semenjak kecil betul-betul tertanam. Semenjak kecil beliau sudah menunjukkan sifat mulia; penyabar, ridha, pemurah, dan kasih sayang terhadap siapa saja. Kasih sayang yang ditanamkan dan juga ditunjukkan oleh ayahnda beliau sendiri. Seperti misalnya suatu ketika hujan turun deras sedangkan rumah beliau sekeluarga sudah sangat tua dan reot. Sehingga air hujan merembes masuk dari atap-atap rumah.Pada waktu itu, ayah beliau menelungkupi beliau untuk melindungi tubuhnya dari hujan dan rela membiarkan dirinya sendiri tersiram hujan.

Abdul Ghani bin Abdul Manaf, ayah dari Syekh Muhammad Ghani juga adalah seorang pemuda yang shalih dan sabar dalam menghadapi segala situasi dan sangat kuat dengan menyembunyikan derita dan cobaan. Tidak pernah mengeluh kepada siapapun. Cerita duka dan kesusahan sekaligus juga merupakan intisari kesabaran, dorongan untuk terus berusaha yang halal, menjaga hak orang lain, jangan mubazir, bahkan sistem memenej usaha dagang beliau sampaikan kepada kami lewat cerita-cerita itu.

Beberapa cerita yang diriwayatkan adalah Sewaktu kecil mereka sekeluarga yang terdiri dari empat orang hanya makan satu nasi bungkus dengan lauk satu biji telur, dibagi empat. Tak pernah satu kalipun di antara mereka yang mengeluh. Pada masa-masa itu juga, ayahnda beliau membuka kedai minuman. Setiap kali ada sisa teh, ayahnda beliau selalu meminta izin kepada pembeli untuk diberikan kepada beliau. Sehingga kemudian sisa-sisa minuman itu dikumpulkan dan diberikan untuk keluarga. Adapun sistem mengatur usaha dagang, beliau sampaikan bahwa setiap keuntungan dagang itu mereka bagi menjadi tiga. Sepertiga untuk menghidupi kebutuhan keluarga, sepertiga untuk menambah modal usaha, dan sepertiga untuk disumbangkan. Salah seorang ustazd kami pernah mengomentari hal
ini, “bagaimana tidak berkah hidupnya kalau seperti itu.” Pernah sewaktu kecil beliau bermain-main dengan membuat sendiri mainan dari gadang pisang. Kemudian sang ayah keluar rumah dan melihatnya. Dengan ramah sang ayah menegur beliau, “Nak, sayangnya mainanmu itu. Padahal bisa dibuat sayur.” Beliau langsung berhenti dan menyerahkannya kepada sang ayah.

Beberapa Catatan lain berupa beberapa kelebihan dan keanehan: Beliau sudah hapal al-Qur`an semenjak berusia 7 tahun. Kemudian hapal tafsir Jalalain pada usia 9 tahun. Semenjak kecil, pergaulan beliau betul-betul dijaga. Kemanapun bepergian selalu ditemani (saya lupa nama sepupu beliau yang ditugaskan oleh Syaikh Seman Mulya untuk menemani beliau). Pernah suatu ketika beliau ingin bermain-main ke pasar seperti layaknya anak sebayanya semasa kecil. Saat memasuki gerbang pasar, tiba-tiba muncul pamanda beliau Syaikh Seman Mulya di hadapan beliau dan memerintahkan untuk pulang. Orang-orang tidak ada yang melihat Syaikh, begitu juga sepupu yang menjadi “bodyguard’ beliau. Beliaupun langsung pulang ke rumah.

Pada usia 9 tahun pas malam jum’at beliau bermimpi melihat sebuah kapal besar turun dari langit. Di depan pintu kapal berdiri seorang penjaga dengan jubah putih dan di gaun pintu masuk kapal tertulis “Sapinah al-Auliya”. Beliau ingin masuk, tapi dihalau oleh penjaga hingga tersungkur. Beliaupun terbangun. Pada malam jum’at berikutnya, beliau kembali bermimpi hal serupa. Dan pada malam jum’at ketiga, beliau kembali bermimpi serupa. Tapi kali ini beliau dipersilahkan masuk dan disambut oleh salah seorang syaikh. Ketika sudah masuk beliau melihat masih banyak kursi yang kosong.

Ketika beliau merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu, tak disangka tak dikira orang yang pertama kali menyambut beliau dan menjadi guru adalah orang yang menyambut beliau dalam mimpi tersebut.

Salah satu pesan beliau tentang karamah adalah agar kita jangan sampai tertipu dengan segala keanehan dan keunikan. Karena bagaimanapun juga karamah adalah anugrah, murni pemberian, bukan suatu keahlian atau skill. Karena itu jangan pernah berpikir atau berniat untuk mendapatkan karamah dengan melakukan ibadah atau wiridan-wiridan. Dan karamah yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah istiqamah di jalan Allah itu sendiri. Kalau ada orang mengaku sendiri punya karamah tapi shalatnya tidak karuan, maka itu bukan karamah, tapi “bakarmi” (orang yang keluar sesuatu dari duburnya).

Selain sebagai ulama yang ramah dan kasih sayang kepada setiap orang, beliau juga orang yang tegas dan tidak segan-segan kepada penguasa apabila menyimpang. Karena itu, beliau menolak undangan Soeharto untuk mengikuti acara halal bil halal di Jakarta. Begitu juga dalam pengajian-pengajian, tidak kurang-kurangnya beliau menyampaikan kritikan dan teguran kepada penguasa baik Gubernur, Bupati atau jajaran lainnya dalam suatu masalah yang beliau anggap menyimpang atau tidak tepat.

Pada hari Rabu 10 Agustus 2005 jam 05.10 pagi beliau telah berpulang ke rahmatullah pada usia 63 tahun.

Maret 24, 2011 Posted by | Wisata Religius | , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI

Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari (atau lebih dikenal dengan nama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 – meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun atau 15 Shofar 1122 – 6 Syawwal 1227 H)[1] adalah ulama fiqih mazhab Syafi’i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Beliau mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.

Beliau adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara.

Maret 24, 2011 Posted by | Wisata Religius | , , , , , , , , | Tinggalkan komentar